aku

Showing posts with label (kisah) Persegi Empat. Show all posts
Showing posts with label (kisah) Persegi Empat. Show all posts

15 April 2012

Persegi Empat (episode 12)


Aku terbangun dari tidur panjangku. Mataku sembap bekas menangis semalam. Aku menyeret langkahku untuk memulai hari ini. Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. amin ;p

Terlihat olehku sosok reza sedang terduduk tenang di perpusatakaan. Aku menghela nafas panjang menghampirinya. Akan ku selesaikan hari ini juga.
Aku melangkah mendekatinya, kulihat wajahnya yang begitu tenang sedang membaca buku. Tanganku hendak menyentuhnya, tetapi hatiku berkata, bukan waktunya, Ren...
Aku berbalik arah. Tidak jadi.
...

Harist mengabariku bahwa orangtuanya akhirnya bercerai karna suatu masalah yang tidak bisa ia ceritakan padaku. Aku segera menemui harist. Aku takut ia jatuh terlalu jauh. Ini semua sangat berat, Aku tahu itu. Harus ada yang menemaninya di saat-saat sulit seperti ini kalau tidak mau ia OD lagi. Ya, akan kutemani ia.

Harist bukanlah orang yang cengeng meski diuji cobaan yang begitu berat, namun dalam masa penyembuhan seperti ini, tentu saja ia butuh teman untuk bercerita atau paling tidak menjadi pendengar yang baik baginya.

Semakin hari aku semakin dekat dengan harist. Aku senang melihat ia sedikit demi sedikit pulih dari sakitnya. Kuharap ia tak kan pernah lagi menyentuh obat-obatan itu. Ia sekarang sedang sibuk dengan dunia musiknya. Ia belajar gitar siang dan malam .Ia punya grup band dan kutahu teman-temannya 'bersih'. Jadi aku tenang saja membiarkan ia sibuk dengan bandnya itu.

Maret----

April-----------

Mei--------------------

Juni------------------------

Dan masa liburan pun tiba. Besok harist akan berangkat ke bandung untuk ikut kompetisi band yang diadakan oleh salah satu label rekaman. Semoga ia dan bandnya sukses. Sayangnya aku tak bisa menemani, karna aku sudah berjanji akan datang ke surabaya saat ilburan pada pamanku.

Dan hari ini harist mengajakku mengunjungi makam syifa. Aku membawa setangkai mawar merah untuk syifa, sedangkan harist membawa sebuket mawar indah sekali. Kami berkirim doa untuk almarhum syifa. semoga ia tenang di sana.
Setelah itu harist pamit padaku. Ia sempat membisikan sesuatu padaku, 'selesaikan urusanmu dengan reza', begitu katanya. Aku hanya bisa tersenyum padanya. Aku tak janji.
Harist pun pergi.

Aku diantar mamaku hanya sampai stasiun gambir. Ya, aku akan berangkat sendiri ke Surabaya. Ayahku tak bisa mengantar karna sedang ada pekerjaan yang tak mungkin ditinggalkannya. Reza? Entahlah... Aku tak berharap banyak padanya. Ia tahu aku akan ke Surabaya, tapi ia tak merespon apa pun. Yasudahlah. . . mungkin selama ini aku hanya ke-GR-an saja atas segala perhatian yang diberikannya padaku.

Kereta sudah mau jalan. Aku masuk ke gerbong dan duduk di dekat jendela. Terlihat mamaku melambaikan tangannya sambil tersenyum lembut bagai malaikat. Kereta apinya pun mulai berjalan meninggalkan Jakarta. Aku menghela nafas sekali lagi. Ku tinggalkan sejenak kotaku. Kenangan-kenagan tentangku dengan Syifa, dengan Harist, dengan Reza,,,

Beberapa pedagang asongan mencoba menawariku segala macam jajanan khas kereta. Aku memberikan kode tidak mau dengan sopan. Sudah kesekian kali pedagang-pedagang itu menawariku makanan, akhirnya aku membeli permen dan satu bungkus tisu. Kuharap ini terakhirkalinya. Aku ingin menikmati perjalanan ini sendirian tanpa gangguan apa pun.
Tapi. . . ada lagi pedagang yang menawariku sesuatu. Ia memanggil manggilku, neng.. neng.. 
Huuuuuh.. sungguh menyebalkan! Aku pun menengok dengan malas ke arahnya. Ternyata dia bukan pedagang asongan. Dia adalah Reza! Aku terperanjat. Kaget? Tentu saja! Tapi senang bukan main ;D

Reza duduk disampingku. memberikan sesuatu berbentuk persegi empat padaku.
aku : apa?
reza : dari tante martha, buatlu.
aku : terus lu ngapain di kereta ini?
reza : yaa mau nganterin titipan tante martha itu
aku : oh *tersenyum kecil ;p
reza : hmm sebenernya mau nganterin lu juga sih
aku : oh *tersenyum lebar ;D

Kubuka bungkusan persegi empat itu. Ternyata benar tebakanku, isinya adalah kolase foto yang aku lihat dikamar syifa waku itu. Terima kasih sahabatku... aku suka sekali benda ini. Ya, persegi empat ini ;)
Kereta pun melaju membawa kami meninggalkan Jakarta. Membawaku dengan reza. Betapa nyamannya duduk di samping Reza ;)
Ada sekelompok musisi jalanan masuk ke gerbong kami. Sekumpulan anak muda itu membawakan lagu kesukaanku ; More Than Words

'Saying I love you.. Is not the words
I want to hear from you
It's not that I want you.. Not to say
But if you only knew
How easy.. It would be to
Show me how you feel
More than words. . .'

Aku : reza, mmph... waktu itu mau ngomong apa ya, yang sebuah kalimat norak itu..
reza : yang mana?
aku : ih, yg waktu itu lu mau ngomong tapi gak jadi
reza : oh yg itu, hmmph cuma sebuah kalimat norak doank
aku : ya, apaaaa??
...
...
...
reza : hmmmph... I LOVE YOU 
...
aku : oh, haha

reza : yah kok ketawa, jawab dong
aku : tapi jawabnya pakai kalimat norak juga, gakpapa?
reza : *mengangguk
aku : yaudahdeh.. I LOVE YOU TOO
reza : hahahahahaaaahahahaa

'. . .Is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say
That you love me..Cause I'd already know
What would you do.. If my heart was turn in to
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say.. 
If I took those words away..
Then you couldn't make things new
Just by saying.. I love you....' 



-Selesai-

Persegi Empat (episode 11)


Aku berlari menuju meja telepon. Kucoba dengarkan seksama pembicaraan mama dengan ibunya Syifa. Tapi mama kemudian menutup telponnya. Wajahku menyiratkan tanya pada mama.. Siapa yang meninggal??
Mama memelukku erat. sangaaaat erat hingga aku hampir sulit untuk bernafas.
Aku : siapa ma? siapa yg meninggal?
Mama : sahabatmu nak,, syifa, sahabatmu...
...

...

...

Hening. aku.. aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku kira ini keliru. Tadi syifa masih bersamaku. Masih tertawa bersamaku ceritakan tentang kita. Dia masih melambaikan tangannya di bandara itu. Iya, aku masih ingat betul senyum khasnya saat ia melambaikan tangan di bandara. TIDAK! syifa masih disana! Syifa hanya pergi ke jogja sebentar dan besok akan kembali lagi! Syifa tidak pergi untuk selama-lamanya kan! Tidaaaaaaaaaaaaaak!!

'aku tak percaya lagi.. dengan apa yg kau beri..
aku terdampar disini.. tersudut menunggu mati..
aku tak percaya lagi.. akan guna matahari..
yg dulu mampu terangi.. sudut gelap hati ini..'

Kupaksakan diriku memakai baju hitam itu. Aku memakai baju, bercermin, mengikat rambut panjangku dengan pita merah--pita ini pemberian Syifa. Aku melangkah keluar rumah bagai tak bernyawa. Aku dijemput seseorang untuk ke rumah duka. Aku tak tahu siapa yang menjemputku. Ku datang ke rumah duka, disana banyak orang berpakaian hitam-hitam sambil menangis, aku tak tahu siapa saja mereka. Ada juga beberapa bisik-bisik mengenai kecelakaan pesawat itu, tapi aku tak tahu siapa yg diperbincangkan.. aku tak peduli dengan semua itu.. sungguh ku tak peduli..

Aku disambut dengan peluk tangis oleh tante Martha. Aku memeluknya erat. Aku tahu bagaimana perasaannya saat ini. Seorang ibu yang kehilangan anak remajanya yang cantik jelita yg sangat ia sayangi, Kabar duka mana yg bisa mengalahkan kepedihan dari ini semua.

Jenazah orang itu kini dijemput ayah syifa dan kerabat yang sedang dalam perjalanan menuju kediaman. Aku masih tak percaya, sungguh!
Aku dipersilahkan tante Martha menunggu di kamar Syifa. Kamarnya agak berantakan dengan segala pernak-pernik berwarna merah tersebar di setiap sudut kamar itu. Aku mengamati semuanya.
Hey... ada sesuatu berbentuk 'persegi empat' di dekat meja belajarnya. Apa itu? sepertinya mau dibungkus, tapi belum selesai. Aku mencoba membuka bungkus itu.. terlihat sebuah bingkai persegi empat yang sangat cantik. Di dalamnya terdapat kolase foto-foto kami selama ini. Foto-foto kami tersusun random namun sungguh menarik. Kisah kami seperi terangkum dalam bingkai indah berbentuk persegi empat itu. Aku tersenyum melihatnya.

Teringat semua kenangan yang telah kita lalui bersama. Terlihat semua dari foto itu sedih, tangis, tawa, canda, duka semua kita lalui bersama.
Ada foto di saat kita sedang di mos--kala itu kami berkuncir dua dengan dandanan super aneh. Ada juga saat kami pertama kali memakai seragam putih-abu2 untuk pertama kalinya--betapa bangganya kami saat itu. Ada juga foto saat aku menangis karna kehilangan hp baruku saat kami jalan-jalan ke kota tua. Ada foto saat aku memberikan surprise party saat syifa berulang tahun. Dan ada foto terbaru saat aku menyerahkan kucing pemberian reza, si Oii, kepadanya, semuanya terbingkai indah dalam sebuah kolase berbentuk persegi empat itu.
Semuanya... aku tak ingin pisah -____-

Pemakaman selesai. Aku sempat melihat sosok Harist ada diantara para pelayat. Dia berduka, sama sepertiku. Namun aku tak mau mengantarkan kepergian sahabatku dengan air mata. Ku taruh setangakai mawar merah di atas makam. Itu untukmu, syifa... bukan mawar terakhir. Akan ada lagi... ya, akan ada lagi...

Hari-hari setelah ini sungguh terasa berat. Aku sendiri. Sepi.
Aku berjalan melewati lorong kelas, tak ku lihat lagi sosok syifa yang biasanya terlihat dari jendela kelasnya sedang mengobrol. Aku pergi ke kantin, di situ tak ada lagi kawan yg cerewet menyuruhku makan nasi atau menawarkan martabak spesial buatannya sendiri. Aku duduk diam dikelas, tapi tak ada lagi kuncir rambut syifa yg biasanya terlihat di depan pintu atau suaranya yg riang yang sering membisikkan sesuatu ke telingaku.
Aku mencoba menghibur diri sendiri. Aku pergi ke bioskop, lalu memesan 2 tiket, tapi aku lupa bahwa aku hanya datang sendiri, tidak lagi bersama syifa. Aku berjalan -jalan ke pasar tradisional lalu membeli martabak, tapi rasanya tidak selezat buatan syifa. Akhirnya aku pulang ke rumah. Aku tak menemukan sosok syifa dimana pun. Ia benar-benar telah tiada.
Aku hampiiiiiir saja tertabrak bajaj lagi, tetapi untungnya kali ini supir bajaj itu bisa mengerem. Aku pun segera mengsms sahabatku,, dan sekali lagi aku lupa bahwa takkan ada lagi balasan sms dari syifa.

Malam telah larut. Aku lelah. Sendiri di sini.. Kucoba menyalakan radio untuk mengusir rasa sepi. Sebuah lagu Dea Mirella melantun dengan indah.
'... tak pernah ku duga bahwa akhirnya..
tiada dirimu.. di sisiku..
meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan.. '

Air mataku pun tumpah tak tertahankan.Aku menangis. Airmataku membasahi bantal guling kecil kado dari Syifa--saat aku ulang tahun ke 16.
Raganya mungkin pergi, tapi namanya... selalu ada di hati.
'... kau bukan hanya sekedar indah..
kau tak akan terganti...'
selamat malam..

Syif, besok aku akan menyelesaikan sesuatu yang harus ku selesaikan...









-bersambung-

Persegi Empat (episode 10)


Selepas magrib, Reza menjemputku dgn motornya. Reza memboncengiku tanpa banyak tanya mengenai apa yg kulakukan di RS. Untunglah, jd aku tak perlu cerita ttg Harist.
Reza mengantarku sampai dpn rumah. Aku mengucapkan terimakasih pd Reza, tp sepertinya ia ingin bilang sesuatu. Hummp
reza : nghh.. renata
aku : ya?
reza : ng...
aku : *oh please, say something..
reza : ng..gak jd deh. cuma sebuah kalimat norak.
aku : apa??

Reza menggeleng gugup. Lalu ia berbalik menuju motornya. Huuu yasudahlah -,-

lalalalalala
Tak terasa sudah berganti hari. Karna hari ini libur, jadi aku mau main ke rumah Syifa.

Sampai di rmh syifa, tante martha menyambutku. Aku dihujani peluk-cium oleh ibunya syifa ini.
Sayang skali syifa sedang pergi keluar ada keperluan. Tante martha menceritakan tentang kakaknya syifa yang kabur sejak tahun lalu. Terakhir, mereka mendapat informasi kalau kakaknya itu ada di jogja dan Reza-lah yg selama ini menyelidiki tempat persembunyian kakaknya itu. Oh.. jd slama ini reza & syifa dekat karna masalah itu. Huhuhu aku jadi malu karna telah menuduh syifa MT-in aku -.-

Syifa pun datang. Ia menyapaku sebentar lalu bergegas menuju kamarnya. Hari ini Syifa mau menyusul kakanya ke jogja.
Aku pun ikut mengantarnya ke bandara. Ya, ia naik pesawat karna harus secepatnya balik ke jakarta lagi. Di perjalanan aku mengungkapkan sgala kecemburuanku slama ini pd nya. Ia tertawa terbahak2 mendengarkan betapa aku sgt cemburu buta dgnnya.
syifa : ciyeee cemburuan.. haha
aku : abisnya elu sih deket-deket terus ama reza!
syifa : ta'elaaah reza ama harist, juga masi gantengan harist! huahaha
aku : ieh.. gantengan reza! eja kan itemmanis tauuu
syifa : hah eja? reza maksudlu? jiyee panggilan sayang ni yee


Kami terus bercanda-canda membandingkan ketampanan reza & harist.
Akhirnya kami tiba di bandara. Jadwal penerbangan sudah mepet. Syifa segera memeluk ibunya, juga aku. Ia pun berlari sambil melambaikan tangannya pd kami.


-sorenya
aku bosan, mamaku sedang menonton berita kecelakaan. huh itu kan sudah sering terjadi.
Telpon rumahku berdering, tapi aku malas mengangkatnya. aku malah masuk kamar. Terdengar mamaku menjawab telpon. Oh rupanya dari tante martha.
'ada apa jeng?
...
astagfirullah, lalu?
...
innalillahi wainna ilaihi ra'jiun,, kamu tabah y jeng..'

??
jantungku berdegup kencang. Satu nama terlintas dalam benakku.
SYIFA !









-bersambung-

Persegi Empat (episode 9)

Aku tercekat. Aku berusaha untuk kabur tapi kedua orang itu memegangi tanganku. Aku terus menarik-narik diriku agar lepas dari mereka. Kugigit sekuat mungkin tangan salah satu dari mereka. ia kesakitan dan mulai lengah. Aku mencoba berlari, tapi sopirtaksi itu menarik tasku. Aku terus berusaha melepaskan diri, aku berteriak-teriak minta tolong tp tak ada yg dtg. Sesaat orang itu memeriksa isi tasku. Aku langsung lari dan lari ke arah keramaian. Aku tak mau menengok ke belakang lagi.

Huft! syukurlah aku bisa selamat. Tapi.. skrg aku lagg di jalan apa ya? tak ada kendaraan umum yg lewat. ojeg motor pun tak ada. oya, ini kan jam 3 pagi. pantas saja jalan raya sepi!
huh.. mau tak mau aku harus jalan kaki sampai rumah. mau telpon mama, kan hp dan dompetnya ada di tas yg tadi.

Aku melangkah lemas menyusuri jalan. Banyak mobil pribadi yg melintas cepat.
tibaa2 ada sebuah mobil yg sgt ku kenal berhenti di dkt ku. REZA.
Reza : lu ngapain ren, malem2 disini? ayo masuk mobil gw!

Huft sekali lagi aku bersyukur, Tuhan tlah mengirimkan malaikatnya pd ku. Aku pun ikun mobil reza. di dlm mobil aku ceritakan apa yg baru ku alami pd reza. Tp reza cuma komen, 'makanya, lain kali jangan 'sok' pulang sendirian malem2'
Huu tapi tak apalah, yg penting dia udah menolongku dan sekarang mau mengantarku pulang :D
Aku mencoba meminta maaf soal Oii, tapi ia hanya menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap ke depan.
Yasudahlah.. hoaamph.. aku mengantuk.
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Aku terbangun dan menyadari bahwa hari sudah pagi. Huahh.. masih ngantuk -,-
tapi tapi.. kok aku tidur di sofa?
Kudengar mamaku berkicau samar-samar
Mama : renata sayang, kamu udah bangun nak? ayo cepat mandi,sarapan, lalu sekolah! eh ngomong2 temanmu itu baik sekali ya,, mau menggendong kamu sampai ke ruang tamu. Abis kamu susah dibangunin sih.. untung aja dia baik dan.. bla bla bla....

Tak tau lagi, mama ngomong apa! tp.. barusan mama bilang, reza menggendongku? hah yg bener? tp mama gak mungking bohong! hey, serius nihh.. fufufu

Aku ke sekolah dgn wajah seadanya, alias kucel bgt! syifa menghampiriku,
Syifa : renata, lu kucel bgt! blm makan ya?
Aku : udah kok
Syifa : ah masa? ohiya, hari ini aku buat martabak lho, rencananya nanti siang aku mau ke rmh harist, soalnya aku udah kangeeen bgt ama dia! haha lu mau ikut ga?

Aku terperangah, harist kan lg di RS. Gimana kasih tahunya ke syifa ya. humm.. tp harist pesan jgn bilang2 syifa! duuuh
Aku : ng.. syif, martabaknya boleh untukku ? aku laper banget nih.. ya ya?

-maaf, aku bohong-

Tetapi syifa mungkin tak tega melihatku kelaparan. akhirnya ia memberikan martabak yg untuk Harist untukku.

Seharian itu aku asyik mengobrol dengan syifa tentang apa saja. Kangen juga rupanya diriku dengan cerita-cerita syifa yang seru. Aku jadi merasa semakin tak enak menyembunyikan rahasia ini terhadap sahabatku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, aku kan sudah janji dengan harist.

Aku dan syifa berjalan keluar gerbang berbarengan dengan reza juga. reza menuju tempat parkir motor. tumben reza bawa motor. eh, dia mengeluarkan dua buah helm, satu untuk dia lalu satu lagi untuk... siapa ya? untuk aku atau syifa?
Namun, tiba-tiba syifa melepaskan gandengan tangannya dariku lalu menerima helm itu dari tangan reza.
Syifa : kita duluan ya ren, mau ada keperluan. dadaaaah

Mereka pergi meniggalkanku dengan penuh rasa tanya. huhuuuuu aku cemburu

Sorenya, aku pergi ke RS untuk menjenguk harist. ternyata ia sudah dipindahkan darii ruang UGD ke ruang rawat inap biasa. Harist tersenyum menyambut kedatanganku. Ia sudah kelihatan baikan mesku masih dengan selang infus.
Kami mengobrol hingga senja tiba. Harist memaparkan kenapa ia sampai seperti ini. Alasan utamanya tentu karana orangtuanya. Dan kenapa ia tak mau syifa tahu, karna ia tak mau membebani pacarnya yang sangat dicintai itu.

Tiba-tiba reza sms
From reza : dimana lu? gw ditanyain nyokaplu
Aku reply : di RS pusat
From reza: lu jgn kemana-mana. biar gw jemput. jgn plg sendiri pokoknya!

;)









-bersambung-

Persegi Empat (episode 8)


Sudah hampir satu jam ambulans yg kuhubungi belum juga datang. Aku terus menemani Harist yang sudah tak sadarkan diri. Kuperiksa denyut nadinya yang berdetak sangat lamban.
Sesaat kemudian ambulans akhirnya datang juga. Tubuh harist dibawa petugas RS. Aku pun ikut masuk ke dalam ambulans.
Sampai di RS, harist segera dilarikan ke UGD. Masalah administrasi biarlah kutangguhkan dengan uang direkeningku. Aku tak tahu bagaimana memberi tahu orangtua Harist yang tinggal di Belanda.

Dokter memberitahuku bahwa Harist mengalami over dosis. Aku sungguh terkejut mendengarnya. Ternyata selama ini harist sering mengkonsumsi valium dengn dosis yang berlebihan. Setahuku, valium adalah jenis obat tidur atau obat penenang yang jika dikonsumsi terus-menerus akan menyebabkan ketergantungan dan dapat merusak syaraf. Aku tak mengerti kenapa harist bisa sampai seperti ini. Apakah ia punya masalah besar hingga harus mengkonsumsi obat penenang dengan dosis tinggi?

Aku menunggui harist hingga larut malam. Aku ingin memastikan bahwa nyawa harist masih bisa diselamatkan. Sudah 2 jam lebih harist di UGD tapi tim medis belum memastikan kepadaku bagaimana keadaan harist sekarang.
Aku melirik jam berkali-kali dan aku baru ingat kalau aku belum solat isya. Ya Tuhan.. maafkan aku.
aku pergi menuju masjid RS untuk solat. Kupanjatkan doaku untuk harist semoga ia diberikan kesempatan untuk hidup 1 kali lagi. Amin..

Aku kembali dari masjid dan mendapatkan kabar yang melegakan hati. Alhamdulillah.. nyawa harist masih bisa diselamatkan. Hanya saja ia masih perlu mendapatkan perawatan intensif di RS. Aku sangat bersyukur atas semua ini, untung saja sebelum harist OD ia sempat mengsmsku. Mmmh, mungkin sebelumnya ia sudah punya firasat.
Aku diperbolehkan melihat keadaan harist di UGD. ia masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Ada selang infus ditangannya, juga didadanya. Aku tak bisa membayang betapa sedihnya Syifa, jika ia tahu hal ini.

Sudah pukul 3 pagi. Aku harus pulang.
Aku naik taksi yg kebetulan lewat. Aku menyebutkan komplek rumahku. di dalam mobil aku sungguh mengantuk. Hampir saja aku tertidur pulas sebelum akhirnya aku menyadari bahwa si sopir taksi telah membawaku entah kemana. Aku sungguh tak tahu kini aku sedang ada dimana. Bagiku, jalanan ini asing. aku sempat protes dengan si sopir taksi, tapi ia hanya diam saja. Aku curiga! jangan-jangan ia berniat jahat.
dan benar saja.. si sopir mengeluarkan pisaunya ke leherku. aku mencoba kabur tapi ternyata ada 2 temannya di depan taksi.









-bersambung-

Persegi Empat (episode 7)

Rabu -__-
Kamis -___-
Jumat -____-
Sabtu -______-
Minggu -________-
Dan. . . seniiiiiiiiiin ;D
Hari yang kutunggu akhirnya datang juga!
Hari ini reza masuk ke sekollah lagi. Akhirnya setelah sekian lama menahan kerinduan. fuh! hari ini terlihat lebih cerah dari biasanya. Mmmmph... mungkin karna reza mau dateng. aku datang agak terlambat ke sekolah karna tadi kelamaan mematut diriku di cermin, kan mau ketemu reza.
sampai di sekolah langsung masuk kelas dan belum sempat ketemu reza. Nanti aja deh pas istirahat, pikirku.

Saat istirahat aku ke kelas syifa sengaja biar ketemu reza, tapi reza lagi gak ada di kelas. Huuuh kemana sih tuh orang? kata syifa dia lagi ke ruang guru menyerahkan tugas. Hemmmph tak apa deh, sekalian aku mau ngobrol dengan syifa.
Ada yang beda di pergelangan tangannya syifa. Dia pakai gelang unik banget, seperti kerajinan tangan khas jogja. kapan syifa ke jogja?
Aku : eh, gelangmu bagus deh. dari jogja ya?
Syifa : iya. kok tahu? ini oleh-oleh dari reza lho.. pas banget lagi, warnanya merah.. warna kesukaanku.

Hah? reza membawakan oleh-oleh untuk syifa? kok aku nggak? warna merah lagi! aaaaa kok reza gitu sih? padahal waktu itu dia juga pamitan sama aku. masa aku dilupakan begitu saja? 
Setelah berbasa basi sebentar dengan syifa aku kembali ke kelas. niatku untuk bertemu reza kuurungkan. Kenapa sih reza lebih dekat dengan syifa? dan kenapa kalau ada apa-apa dengan reza, syifa lebih tahu daripada aku? memang sih mereka satu sekolah waktu smp, tapi kan reza tahu syifa pacarnya harist yang notebene teman SMPnya juga, meski sekarang harist berbeda SMA dengan kami.

Bel pulang berbunyi.
Saat aku keluar reza menarik tanganku untuk ikut dengannya. mau dibawa keman ya aku? tapi aku gak mau tanya. Masih kesal dengan reza karna aku gak di kasih gelang seperti syifa. dia mengajakku ke taman belakang sekolah.
Aku melihat sekeliling dan tidak ada apa-apa. oh salah! ada sebuah kandang kecil gak tau isinya apa.
Hemmmp... reza menarikku semakin dekat ke kandang kecil itu. isi kandang iitu apa ya?
Reza : ini... oleh-oleh buat lu.
Aku : apa? kok di kandang?
Reza : lihat saja... 

Perlahan reza membuka kandangnya dan terlihat seekor. . . KUCING!
Oh tidaaaaaak! apa reza gak tahu kalau aku tak suka kucing?? duuuooh kenapa reza memberiku ini sih? jangan-jangan dia emang gak tahu. Kucingnya lucu sih. Kecil. Bulunya lebat berwarna silver. Matanya hijau kebiruan. Ini kucing jenis apa ya? ah gak ngerti!
Reza : Oii ini anaknya kucing pakdeh aku yang di jogja
Aku : Oii ?
Reza : iya, namanya oii. gimana? lu suka kan... kucing ini untuk lu. dijaga baik-baik yaa ;D

Dan reza berbalik pergi. sepertinya dia emang gak tahu kalau aku takut kucing. ah rezaaaaaa! kenapa aku gak dikasih oleh-oleh sebuah benda aja sih? huhu mau menolak pemberiannya kan juga gak enak.

Akhirnya si Oii kubawa pulang. Malamnya aku ke rumah syifa membawa serta Oii. Ya, aku berniat memberikannya pada syifa. Dia kan penyuka kucing. Jadi kukira oii akan lebih sejahtera hidupnya jika tinggal dengan syifa.
Syifa menerima oii dengan senang hati.oii langsung diajak bermain oleh syifa, sedangkan aku malah tak dihiraukan.Tapi syukurlah syifa mau menerima oii. jadi aku tak perlu repot-repot merawat si oii. karna sudah larut malam. aku pun pamit pulang.

Keesokan harinya aku malah tak melihat reza sama sekali. Kemana ya si reza.. aku kan belum mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba seseorang menyolek bahuku. REZA. Dia menatapku dalam. Hah? ada apa nih... kok tiba-tiba reza memandangi aku. Matanya tajam bangeeet. Oh pleaaaaaase. . . jangan pandangi aku seperti itu, aku kan jadi grogi.
Reza : kalau lu gak suka ama oii, bilang ajah! gak usah pura-pura suka sama pemberian dari gw! gw juga gak bakal maksa lu buat terima kucin itu. dan jangan seenaknya aja nyuruh orang lain buat mengadpsi oii. asal lu tahu ya, oii bukan kucing sembarangan!

Aku tertegun tak bisa berkata apa-apa. reza marah denganku. benar-benar marah padaku. ya, ku bisa melihat itu dari pandangan matanya yang tajam.

'kau buat aku bertanya.. kau buat aku mencari.. tentang rasa ini aku tak mengerti...'

Malamnya aku berniat meminta maaf dengan reza, tapi aku benar-benar takut ia masih marah.
eh, ada sebuah sms masuk. dari harist? tumben!
from harist : tlg ke rmh gw skrg jg. gw hrs dibawa ke rs. dan tlg jgn blg syifa.

Memang sih rumah harist dekat denganku, tapi kenapa ia minta aku untuk kerumahnya? trus kenapa aku gak boleh bilang ke pacarnya sendiri? aneh!

Dengan perasaan masih bingung akhirnya aku datang juga ke rumah harist. Kuketuk pintunya tak ada yang menyahut. Kubuka dan kulihat rumahnya sepi sekali. Aku menuju kamar yang bertuliskan nama harist di pintu. Kubuka pintunya dan betapa terkejutnya aku melihat harist terkapar tak berdaya di lantai kamarnya, mulutnya berbusa dan sepertinya ia sudah tak sadarkan diri. ya tuhan. . . apa yang terjadi pada harist???
Segera aku menghubungi rumah sakit terdekat. mudah-mudahan nyawa Harist masih bisa di tolong..











-bersambung-

Persegi Empat (episode 6)


Pagi ini bangun tidur soundtracknya 'ingat kamu' -maia
Memang lagi inget Reza terus akhir-akhir ini. Mau tidur inget Reza, bangun tidur inget Reza, wkt sarapan inget Reza, Reza Reza dan Reza.
By the way kmrn Reza ngapain ya berduaan ama Syifa? aku gak jadi mengembalikan topinya. Juga gak mau tanya ke Syifa. Dia kan sahabatku. Mana mungkin dia MT-in aku. Lagi pula dia udah punya Harist.. pacarnya yg baik hati dan tidak sombong itu. Tapi.. masih penaran sih kemarin syifa & reza ngapain..

Aku berjalan malas menuju kelas. Hari ini mendung. Kulihat syifa dari jendela kelasnya, sedang ngobrol dgn reza. Fuh!

Waktunya istirahat, tp aku malas keluar kelas. Hujan.

Kulihat kuncir rambut syifa diujung pintu kelasku dan benar saja, syifa menghampiri mejaku. Dia senyum-senyum sambil membisikkan sesuatu di telingaku. Sesaat kemudian aku segera berlari keluar kelas menuju pintu gerbang.
Huft.. itu dia Reza sedang berdiri di pos satpam. Untunglah.. aku masih punya waktu. Kata syifa tadi reza mau berangkat ke jogja hari ini..
aku : ehem.. yg mau ke jogja. Kok gak pamitan ya?
reza : ini mau pamit.. ama pak satpam
aku : oh *senyum biasa
reza : hmm pamit sama elu juga
aku : oh *senyum luar biasa
reza : aku pamit ya, ndoro..
aku : haha :D kapan balik ke jakarta?
reza : blm pergi, udah ditanyain kapan balik. kenapa emangnya? takut kangen yaa.. haha gw balik sabtu.
aku : oh haha, oke deh.. hati-hati yaa
reza : sipsip.. selama gw pergi, elu jgn nakal ya!

aku terperangah. Ah dia tersenyum :p
Reza berjalan menuju mobilnya. Dia melambaikan tangannya padaku juga pada pak satpam. Jangan-jangan reza ada hubungan spesial dgn pak satpam. eh tp gak mungkin! hahaha
ohiya, topinya.. 'rezaa!' aku berlari kecil menghampirinya. Ia menoleh. Aku menjinjitkan kakiku memakaikan topinya di kepala reza. 'thanks ya', ucapku padanya. Lagi lagi ia tersenyum padaku. Ia pun masuk mobil dan pergi berlalu.

Hemmph.. reza pergi deh. Dia balik ke jakarta hari sabtu. Dan masuk sekolah lagi hari senin. Jadi 5 hari aku gak ketemu reza. Huhu bakal kangen deh. 5 hari? huft.. lama bgt sih perginya.. eh tp seneng juga sih tadi dia pamit sama aku. Trus pesen aku jangan nakal.. hihiy.. kayak lagunya pasto.
' bukan tuk meninggalkanmu slamanya..
aku pasti kan kembali pd dirimu
tp kau jgn nakal.. aku pasti kembali..'

tiba-tiba pak satpam menegurku, 'hey renata! ngapain kamu senyum2 sendiri? kayak orang gila ajah!'
hihi emang aku lagi gila.. tergila-gila ama reza :-)









-bersambung-

Persegi Empat (episode 5)


*Senin pagi

I like monday. hari untuk memulai semangat baru ;D
Oya, sabtu kemarin, gak nyesel deh dateng ke acaranya Reza yang ama anak-anak jalanan itu. Bukan karna ada reza disitu. Tapi karna memang sungguh menyenangkan bisa berbagi ilmu dengan mereka. jadi ikutan semangat karna mereka juga semangat belajarnya meski dalam keterbatasan.
Trus aku juga dapat pelajaran dari mereka, yaitu : bersyukur. Ya, lebih menghargai apa yg kita punya sekarang.
Bayangin deh, kalau pagi kita sujka males-malesan bangun tidur padahal di meja makan udah ada sarapan yg lezat nan bergizi, mereka harus bangun pagi untuk jadi kuli atau bekerja apa saja demi mendapatkan kepingan uang receh. Dan ketika siang kita lagi asyik duduk santai di depan tv atau laptop, mereka harus rela panas-panasan menjual suara mereka demi mencari sesuap nasi. Llalu malamnya, saat kita tertidur pulas di kasur yang empuk, mereka tidur kedinginan di kolong jembatan atau emperan toko..
Hem... kayaknya kita emang harus belajar dari mereka. tetap semangat menjalani hidup dan gak bakal mati konyol gara-gara putus cinta atau gak lulus uan. iya gak?

ding dong ding dong ding dong.. Suara bel masuk berbunyi. Semua murid langsung menuju ke lapangan membuat barisan untuk... u p a c a r a..Hah hari ini upacara?? Yah lupa bawa topi! haduh gimana nich? Yah kena setrap deh... Fufufu mana matahari lagi silau banget! Mana kalo dihukum disuruh berdirinya di depan murid-murid! hadooooh.. Kenapa bisa lupa gini sih?? Ah bete bete bete ah!

Barisan sudah rapi dan kini pak guru sdang merazia murid-murid yg tidak memakai topi. Yah kena deh! Tuh kaaan aku ditunjuk ama pak guru. FFuh! aku berjalan dengan gontai menuju 'tempat hukuman'.
tiba-tiba seseorang menarik tanganku. REZA. Ia melepaskan topi yang ia pakai lalu menyerahkan padaku. Huuu ia tersenyum manis sekali. Aku menyerngitkan dahi padanya, ia mengangguk dan sekali lagi tersenyum padaku. Ia memakaikan topinya dikepalaku, lalu berjalan menggantikan posisiku di 'tempat hukuman' yang silaunya bukan main. Saat itu metahari memang sedang bersinar cerah sekali... seperti hatiku saat ini ;D
Reza mau kepanasan demi aku? hemmm ;DD
(Langsung soundtracknya lagu PADI yg judulnya 'begitu indah')
*Bila cinta... menggugah rasa
Begitu indah... mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku...
Hapuskan semua gelisah

Ahahahaha I LIKE MONDAY ;D

Upacara selesai, pasukan dapat dibubarkan. Dan pasukan pun bubar. Ada yang ke UKS, ke kantin, ke toilet, ke pos satpam. ke TU, ke ruang guru, tapi jarang ada yang langsung masuk kelas. Aku ke kelasnya Reza untuk mengembalikan topi. Kulihat kelas Reza sepi sekali. Itu dia reza cuma sendirian. Eh salah! Ada Syifa ternyata. Tapi mereka lagi ngapain ya? Kok deket banget sih?? Syifa dan Reza deket.. Jangan-jangan mereka. . . ummmph.... -.-









-bersambung-
Top of Form

Persegi Empat (episode 4)


Aku mencoba mengetuk pintu rumah supir bajaj itu. Si ibu membukakan pintu untukku. Sesaat ia memandangi perbanku. Aku menjelaskan maksud kedatanganku yang hendak mengembalikan dompet. Saat bersalaman pamit, kuselipkan selembar uang seratusribuan di tangan si ibu. Semoga itu dapat bermanfaat bagi mereka. Aku pun pulang dengan persaan sedikit lebih lega.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Esok paginya aku berangkat ke sekolah dengan kepala sudah tanpa perban lagi.
Hey lihat! itu si dia sedang berjalan ke arahku. tapi.. tapi.. kok ia melewatiku begitu saja -.-
Hem, baiklah kali ini aku saja yang menyapanya duluan,

aku : Rezaa
si dia : ya?
aku : hmmm... *gak tau mesti ngomong apa
si dia : ohiya Ren, lu mau ikut jadi relawan gak?
aku : relawan apa tuh?
si dia : mengajari anak-anak jalanan membaca dan menulis. mau gak? kalo mau nanti gw sms lu deh, buat kasih tau tempat dan waktunya..
aku : pasti ;D *asyik-asyik...mau di sms Reza ;p

Jatuh cintaaa berjuta rasanyaaa. . .
Syalalalalalala...lalalalalaa.. ;D
Hemm.. sudah jam setengah sembilan malam, tapi kok reza belum sms ya?
mau ku sms duluan, tapi gengsi ah!
Eh tiba-tiba ada getar-getar cinta, ups salah! maksudnya getar-getar sms deng.. hehe
From Reza : Rena, acaranya sabtu sore. Kita kumpul di sekolah dulu ya. Oya jgn lupa bawa buku-buku ceritanya. Trims

Wahaha entah kenapa, seneng banget dapet sms dari dia ;)
Aku langsung mengsms sahabatku,
Aku : Syifaaaaaaa, aku seneng bgt deh.. barusan aku disms reza. Hem, dia duluan lho yg sms aku bwt ngajakin jd relawan ;D
Yap! sms dikiriiiiim!

Aku meminum susu cokelatku. sudah habis segelas, tapi kok Syifa belum bales smsku ya?

Eh ada sms. dari Reza lagi??
Hem... ku buka smsnya
From Reza : Ren, elu salah kirim sms ya? ini gw Reza, bukan Syifa.

Hah? sesaat aku terpaku. dan. . . oh no! aku baru sadar kalau aku SALAH KIRIM SMS !!!
HUAAAAAAAAAAAA malu banget nih........ #@n&^$6w89%$$@4!@//ud*6#$5









-bersambung-

Persegi Empat (episode 3)


Hari ini aku ke sekolah dgn kepala masih diperban. Sebenarnya lukaku sudah membaik, tapi biarlah. Barangkali bisa menarik perhatian si dia :p
By the way, kemarin dompetnya si supir bajaj ketinggalan di kasur RS. Jadi aku yg bawa deh. Meski uangnya cuma Rp 5000, tp kan KTP dan SIMnya penting. Hem aku berniat mengembalikannya sore ini.

Eh, itu si dia lagi berjalan kesini :D
Aduh, gimana ya. Jd salting gini. Enghh nunduk aja deh..
Dan. . . yap! dia menyapaku :D
si dia : hey gimana luka dikepalalu? udah baikan?
aku : iya alhamdulillah :-)

dan dia pun pergi berlalu dgn senyuman mautnya. hihi ;p

*sorenya..
Akhirnya aku menemukan rumah si supir bajaj itu setelah tanya sana sini. rumahnya sangat sederhana. Sebelum mengetuk pintu aku mendengar percakapan,
si ibu : yaah bapak ini gimana toh? itu kan duit buat beli beras..
bapak : maaf bu, tp bapak kan harus tanggungjawab karna bapak yg menabraknya
si ibu : iya sih.. tp kita kan jg perlu makan pak.. mana si adek lg sakit panas. Darimana lagi duit untuk berobat..

Aku tertegun. Sungguh tak tega aku saat tahu, bahwa aku sudah menyusahkan orang lain. Kalau saja aku waktu itu jalan dgn hati-hati, pasti takkan tertabrak bajaj. Dan kebutuhan hidup si supir bajaj itu pasti bisa dipenuhi. Ah, aku memang menyusahkan orang lain -.-
Lalu aku harus bagaimana ini??









-bersambung-

Persegi Empat (episode 2)

Aku masih bersama senyumku saat turun dari angkot. Ceritanya aku senyum-senyum sendiri di tengah kepadatan lalu lintas ibu kota.
Teriknya matahari tak menyurut semangat hatiku yang sedang jatuh cinta. Lalalalala.. aku bernyanyi-nyanyi terus dan terus.. hingga sebuah bajaj menabrakku. Tubuhku jatuh terpelanting di jalan raya. Aku panik melihat darah yang mengalir dari kepalaku. Mereka yang di TKP segera mengerubungi. Kepalaku pusing keliling tujuh. Pandanganku menggelap. Aku bahkan tak bisa membedakan mana yang supir bajaj dan mana yang bajajnya.
Aku dilarikan ke RS terdekat

deggedeggedegedegbrrrrrm..

Setelah selesai diperban, aku mengsms sahabatku.
aku : hey, gw baru aja kecelakaan T.T
sahabatku : hah? gmn keadaanlu? trus skrg ada dmn?
aku : di RS. tp tenang skrg gw udah baikan kok. ini jg dah mau plg.
sahabatku : oh syukurlah. Pdhl tadinya gw baru aja mau ngajak si dia bwt jenguklu.
aku : eh, aduh kepala gw sakit lg nih. Hmm kayanya masi perlu dijenguk deh :-o

Beberapa saat kemudian.. sahabatku datang bersama si dia.
ehem.. si dia menghampiriku.
si dia : gimana keadaanlu? masih sakit?
aku : *mengangguk lemas sambil memicingkan sebelah mataku pd sahabatku, tanpa sepengetahuan si dia ^-^

syalalalalalaa







-bersambung-

14 April 2012

Persegi Empat (episode 1)


Aku berjalan menyusuri lorong kelas. Kulihat si dia sedang sibuk dgn kertas-kertasnya. Senyum simpulku meninggalkan si dia yg tak mengindahkan kehadiranku.
Aku pulang.
Senyum bahagiaku terbawa sampai di angkot.
Aku mengsms sahabatku yg lagi asyik pacaran,
'hey kawan, sepertinya.. aku naksir si dia'
sahabatku mereply,
'siapa??'
aku pun membalasnya,
'teman sekelasmu =p'
Dan dia segera membalas,
'hah? KOK BISA??'









-bersambung-