aku

15 April 2012

Persegi Empat (episode 5)


*Senin pagi

I like monday. hari untuk memulai semangat baru ;D
Oya, sabtu kemarin, gak nyesel deh dateng ke acaranya Reza yang ama anak-anak jalanan itu. Bukan karna ada reza disitu. Tapi karna memang sungguh menyenangkan bisa berbagi ilmu dengan mereka. jadi ikutan semangat karna mereka juga semangat belajarnya meski dalam keterbatasan.
Trus aku juga dapat pelajaran dari mereka, yaitu : bersyukur. Ya, lebih menghargai apa yg kita punya sekarang.
Bayangin deh, kalau pagi kita sujka males-malesan bangun tidur padahal di meja makan udah ada sarapan yg lezat nan bergizi, mereka harus bangun pagi untuk jadi kuli atau bekerja apa saja demi mendapatkan kepingan uang receh. Dan ketika siang kita lagi asyik duduk santai di depan tv atau laptop, mereka harus rela panas-panasan menjual suara mereka demi mencari sesuap nasi. Llalu malamnya, saat kita tertidur pulas di kasur yang empuk, mereka tidur kedinginan di kolong jembatan atau emperan toko..
Hem... kayaknya kita emang harus belajar dari mereka. tetap semangat menjalani hidup dan gak bakal mati konyol gara-gara putus cinta atau gak lulus uan. iya gak?

ding dong ding dong ding dong.. Suara bel masuk berbunyi. Semua murid langsung menuju ke lapangan membuat barisan untuk... u p a c a r a..Hah hari ini upacara?? Yah lupa bawa topi! haduh gimana nich? Yah kena setrap deh... Fufufu mana matahari lagi silau banget! Mana kalo dihukum disuruh berdirinya di depan murid-murid! hadooooh.. Kenapa bisa lupa gini sih?? Ah bete bete bete ah!

Barisan sudah rapi dan kini pak guru sdang merazia murid-murid yg tidak memakai topi. Yah kena deh! Tuh kaaan aku ditunjuk ama pak guru. FFuh! aku berjalan dengan gontai menuju 'tempat hukuman'.
tiba-tiba seseorang menarik tanganku. REZA. Ia melepaskan topi yang ia pakai lalu menyerahkan padaku. Huuu ia tersenyum manis sekali. Aku menyerngitkan dahi padanya, ia mengangguk dan sekali lagi tersenyum padaku. Ia memakaikan topinya dikepalaku, lalu berjalan menggantikan posisiku di 'tempat hukuman' yang silaunya bukan main. Saat itu metahari memang sedang bersinar cerah sekali... seperti hatiku saat ini ;D
Reza mau kepanasan demi aku? hemmm ;DD
(Langsung soundtracknya lagu PADI yg judulnya 'begitu indah')
*Bila cinta... menggugah rasa
Begitu indah... mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku...
Hapuskan semua gelisah

Ahahahaha I LIKE MONDAY ;D

Upacara selesai, pasukan dapat dibubarkan. Dan pasukan pun bubar. Ada yang ke UKS, ke kantin, ke toilet, ke pos satpam. ke TU, ke ruang guru, tapi jarang ada yang langsung masuk kelas. Aku ke kelasnya Reza untuk mengembalikan topi. Kulihat kelas Reza sepi sekali. Itu dia reza cuma sendirian. Eh salah! Ada Syifa ternyata. Tapi mereka lagi ngapain ya? Kok deket banget sih?? Syifa dan Reza deket.. Jangan-jangan mereka. . . ummmph.... -.-









-bersambung-
Top of Form

Persegi Empat (episode 4)


Aku mencoba mengetuk pintu rumah supir bajaj itu. Si ibu membukakan pintu untukku. Sesaat ia memandangi perbanku. Aku menjelaskan maksud kedatanganku yang hendak mengembalikan dompet. Saat bersalaman pamit, kuselipkan selembar uang seratusribuan di tangan si ibu. Semoga itu dapat bermanfaat bagi mereka. Aku pun pulang dengan persaan sedikit lebih lega.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Esok paginya aku berangkat ke sekolah dengan kepala sudah tanpa perban lagi.
Hey lihat! itu si dia sedang berjalan ke arahku. tapi.. tapi.. kok ia melewatiku begitu saja -.-
Hem, baiklah kali ini aku saja yang menyapanya duluan,

aku : Rezaa
si dia : ya?
aku : hmmm... *gak tau mesti ngomong apa
si dia : ohiya Ren, lu mau ikut jadi relawan gak?
aku : relawan apa tuh?
si dia : mengajari anak-anak jalanan membaca dan menulis. mau gak? kalo mau nanti gw sms lu deh, buat kasih tau tempat dan waktunya..
aku : pasti ;D *asyik-asyik...mau di sms Reza ;p

Jatuh cintaaa berjuta rasanyaaa. . .
Syalalalalalala...lalalalalaa.. ;D
Hemm.. sudah jam setengah sembilan malam, tapi kok reza belum sms ya?
mau ku sms duluan, tapi gengsi ah!
Eh tiba-tiba ada getar-getar cinta, ups salah! maksudnya getar-getar sms deng.. hehe
From Reza : Rena, acaranya sabtu sore. Kita kumpul di sekolah dulu ya. Oya jgn lupa bawa buku-buku ceritanya. Trims

Wahaha entah kenapa, seneng banget dapet sms dari dia ;)
Aku langsung mengsms sahabatku,
Aku : Syifaaaaaaa, aku seneng bgt deh.. barusan aku disms reza. Hem, dia duluan lho yg sms aku bwt ngajakin jd relawan ;D
Yap! sms dikiriiiiim!

Aku meminum susu cokelatku. sudah habis segelas, tapi kok Syifa belum bales smsku ya?

Eh ada sms. dari Reza lagi??
Hem... ku buka smsnya
From Reza : Ren, elu salah kirim sms ya? ini gw Reza, bukan Syifa.

Hah? sesaat aku terpaku. dan. . . oh no! aku baru sadar kalau aku SALAH KIRIM SMS !!!
HUAAAAAAAAAAAA malu banget nih........ #@n&^$6w89%$$@4!@//ud*6#$5









-bersambung-

Persegi Empat (episode 3)


Hari ini aku ke sekolah dgn kepala masih diperban. Sebenarnya lukaku sudah membaik, tapi biarlah. Barangkali bisa menarik perhatian si dia :p
By the way, kemarin dompetnya si supir bajaj ketinggalan di kasur RS. Jadi aku yg bawa deh. Meski uangnya cuma Rp 5000, tp kan KTP dan SIMnya penting. Hem aku berniat mengembalikannya sore ini.

Eh, itu si dia lagi berjalan kesini :D
Aduh, gimana ya. Jd salting gini. Enghh nunduk aja deh..
Dan. . . yap! dia menyapaku :D
si dia : hey gimana luka dikepalalu? udah baikan?
aku : iya alhamdulillah :-)

dan dia pun pergi berlalu dgn senyuman mautnya. hihi ;p

*sorenya..
Akhirnya aku menemukan rumah si supir bajaj itu setelah tanya sana sini. rumahnya sangat sederhana. Sebelum mengetuk pintu aku mendengar percakapan,
si ibu : yaah bapak ini gimana toh? itu kan duit buat beli beras..
bapak : maaf bu, tp bapak kan harus tanggungjawab karna bapak yg menabraknya
si ibu : iya sih.. tp kita kan jg perlu makan pak.. mana si adek lg sakit panas. Darimana lagi duit untuk berobat..

Aku tertegun. Sungguh tak tega aku saat tahu, bahwa aku sudah menyusahkan orang lain. Kalau saja aku waktu itu jalan dgn hati-hati, pasti takkan tertabrak bajaj. Dan kebutuhan hidup si supir bajaj itu pasti bisa dipenuhi. Ah, aku memang menyusahkan orang lain -.-
Lalu aku harus bagaimana ini??









-bersambung-

Persegi Empat (episode 2)

Aku masih bersama senyumku saat turun dari angkot. Ceritanya aku senyum-senyum sendiri di tengah kepadatan lalu lintas ibu kota.
Teriknya matahari tak menyurut semangat hatiku yang sedang jatuh cinta. Lalalalala.. aku bernyanyi-nyanyi terus dan terus.. hingga sebuah bajaj menabrakku. Tubuhku jatuh terpelanting di jalan raya. Aku panik melihat darah yang mengalir dari kepalaku. Mereka yang di TKP segera mengerubungi. Kepalaku pusing keliling tujuh. Pandanganku menggelap. Aku bahkan tak bisa membedakan mana yang supir bajaj dan mana yang bajajnya.
Aku dilarikan ke RS terdekat

deggedeggedegedegbrrrrrm..

Setelah selesai diperban, aku mengsms sahabatku.
aku : hey, gw baru aja kecelakaan T.T
sahabatku : hah? gmn keadaanlu? trus skrg ada dmn?
aku : di RS. tp tenang skrg gw udah baikan kok. ini jg dah mau plg.
sahabatku : oh syukurlah. Pdhl tadinya gw baru aja mau ngajak si dia bwt jenguklu.
aku : eh, aduh kepala gw sakit lg nih. Hmm kayanya masi perlu dijenguk deh :-o

Beberapa saat kemudian.. sahabatku datang bersama si dia.
ehem.. si dia menghampiriku.
si dia : gimana keadaanlu? masih sakit?
aku : *mengangguk lemas sambil memicingkan sebelah mataku pd sahabatku, tanpa sepengetahuan si dia ^-^

syalalalalalaa







-bersambung-