aku

15 March 2016

(Mem)Bela Diri

Gue tau ada satu kondisi dimana manusia harus menahan diri untuk merasa benar dalam perdebatan meski ia memang benar. Kecendrungan untuk merasa "perlu" meluruskan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang semestinya buat gue itu udah "naluri" dari sananya. Itu kenapa dalam teori Maslow tentang 7 kebutuhan manusia ada salah satunya rasa aman dan dihargai oleh sesama.

Jelas untuk mendapatkan rasa aman, salah satu bagian penting, bahkan hewan dan tumbuhan pun punya, manusia harus bisa membela diri. Setidaknya punya bentuk perlindungan bagi dirinya sendiri untuk terhindar dari hal-hal yang menyakiti dirinya. Perlu digarisbawahi adalah terhindar dari hal-hal yang menyakiti dirinya.

Nah!
*sigh*
Seandainya gue bisa menjelaskan ke beberapa orang atau bahkan yang "care" sama gue, bahwa gue ada dalam kondisi dimana gue harus membela diri gue.. sendiri.. iya sendiri. Sebab otak gue terlalu idealis untuk berkompromi dengan orang-orang yang pandangannya sama dengan banyak orang yang mungkin melihat pemikiran gue terlalu kekanak-kanakan. Terlalu sedikit-sedikit komplain. Tentang hal-hal kecil yang gue lihat tidak semestinya dilakukan. Tentang peran-peran yang dilakukan tidak sesuai dengan statusnya. Tentang tangan-tangan yang belum berkuku, tapi hendak mencubit.

Manusia tidak pernah puas dengan dirinya sendiri, apalagi dengan orang lain. Bahkan apabila ketujuh kebutuhan dasar manusia versi Maslow tadi sudah terpenuhi, pun ia takkan puas. Gue menyebutnya sebagai suatu kewajaran. Untuk menunjukan bahwa benar kita masih hidup di bumi, bukan di surga. Bahwa benar kita ini perlu ditegur, bukan hanya dipuji. Bahwa benar kita ini ada di panggung sandiwara, bukan berlaga di film dimana kita adalah sutradaranya.

Betul barangkali apa kata Herper Lee dalam novelnya To Kill a Mockingbird, "you never really understand a person until you consider things from his point of view... Until you climb inside of his skin and walk around in it."

22 February 2016

Pengganti Jeje

Kalo di Solo aku punya Icha, nah pas di Jakarta aku punya Jeje. Lucu, imut, besar.. hatinya, suka jajan, suka jalan-jalan, dan suka Asman.. *eh hahaha*. Teman gosip sampe sip. Teman jajan dan jalan-jalan. Teman di saat merasa kaya raya pada tanggal 30 dan teman juga di saat harus bertahan hidup di tanggal 18. Ah teman sejati memang! *ciye ngaku-ngaku*.

Jeje pacarnya Asman. Selalu sayang Asman meski jauh. Selalu merasa bersyukur punya Asman. Selalu membawa nama Asman dalam doanya. Plus baiknya dari manusia ini adalah selalu ready kalo diajak kemanapun.. *sampe masuk Rumah Sakit gara2 belanja 6 jam muter2 BLOK M*. Punya resep kebanggaan nenek moyang. Punya kain sarung dari neneknya yang kalo aku nginep di kamarnya aku yang pake sarung itu. Dan punya aku yang selalu nempel kayak bayangan sama dia.

Tapi tiba-tiba Negara Api menyerang dan Jeje pun menghilang. Wusss!!!!

Aku bagaikan sendal jepit swallow yang hilang sebelah. Atau bagaikan kotak makan tupperwear yang hilang tutupnya. Atau bagaikan supir kopaja 609 yang kehilangan kenek terbaiknya. Ah sedih deh kalo diceritain mah.. *ambil tisyu*.

Terus aku merasa jadi butiran debu di hamparan ladang gandum. Gak usah ditanya dimana ada ladang gandum di Jakarta, itu cuma kiasan ajah. Disini mah banyaknya Rumah Makan Ladang, oh salah.. itu Padang! *bodo amat ul*.

Jadi aku cari yang lain ajah, cari penggantinya Jeje *gampangan banget yak*. Hahaha bukan gitu sih sebenernya. Kebetulan di detik-detik keberangkatan Jeje ke Medan perang, aku ditemukan oleh seseorang yang mengerti aku apa adanya.. *ihirr*

Ya gitu, jadi selain aku kini sibuk dengan siswa-siswaku yang sering curhat ituh, juga disibukan dengan belajar jadi orang baik lagi. Katanya kalo jadi orang baik, bakal dapet temen banyak. Katanya kalo jadi orang baik, meskipun ada yg mau jahat sama kita pun jadinya berubah baik. Katanya berbuat baik itu datengin rejeki, memuluskan impian, dan juga akan balik baiknya ke kita. Jadi aku dan seseorang ini lagi sama-sama belajar.

Kata Jeje harus banyak-banyak bersyukur ul, ada seseorang yang mau menerima kekurangan dan kelebihan kita. Terbaik yang pernah ada. Terbaik yang kita pilih, sebagai teman berbagi suka, juga berbagi duka. Teman yang bahagia saat makan di restoran, juga yang bahagia saat makan di warung kaki lima pinggir jalan. Teman yang bahagia saat cepat tepat sampai tujuan, juga bahagia saat nyasar dan kehujanan.

Teman yang tetap di sampingku, meski aku sedang manyun 5 centimeter. Teman yang tetap membuat tertawa meski di tanggal tua. Teman yang tetap bilang aku lebih manis dari es teh manis, meski muka kusut pulang mengajar hingga setengah sembilan malam. Teman yang tetap nyengir kayak bocah, meski aku sedang bersungut-sungut curhat tentang kang ojek yang wanginya ruarrr biyasa hingga menempel di baju aku. Teman yang tetap memeluk tubuhku yang mungil kayak Tumbelina ini, meski bau keringat abis keliling Gelora Bung Karno. Teman itu kusebut pacar. Kadang juga kusebut kekasih.

Teman yang kata Tulus adalah Teman Hidup.

Semoga di Medan Perang jeje mendapatkan 'harta rampasan perang' yang banyak, biar cepat kalian ganti status di KTP. Doakan kami juga. Aku juga mau ganti status di KTP Jeeeeee.... Aamiin. Kita percaya kalau niatnya baik, Tuhan pasti mengabulkan.
Aamiiiin.

03 February 2016

BAPESOLA

Siang tadi, saat saya dengan sengaja nyari-nyari masalah.. eh salah, maksudnya nyari-nyari makan, saya melihat pemandangan yang menakjubkan. Eh enggak sih biasa aja sebenarnya, tapi bagi saya itu keren. *Karepmu piye toh nduk?*

Iya! Jadi tadi siang saat saya berjalan-jalan di sekitaran Langsat, *ciyeeee anak langsat banget ye kan*, saya menemukan tukang soto lamongan sedang membaca koran. Sotonya enak! Korannya juga enak kayaknya! Eh sebentar, bagusnya saya menemukan soto, atau soto yang menemukan saya? Loh gimana? *jadi bingung*.

Ya pokoknya itu salah satu tempat makan siang cakep di daerah situ. Pas saya pesan sotonya, Bapak Penjual Soto Lamongannya yang selanjutnya akan kita panggil BAPESOLA *singkatan yang maksa* menaruh korannya sebentar. Terus dia membuatkan semangkuk soto plus nasi plus bawang goreng untuk dihidangkan kepada saya. *Loh ini sebenarnya soto lamongan atau soto plus plus?* *bodo amat ul*. Setelah itu ia kembali membaca koran. Serius sekali. Barangkali ada berita bagus disitu. Atau berita krusial tentang negara kita. Satu contoh yang patut ditiru sih buat saya, karna setua dan sesibuk apapun dia masih menyempatkan diri membuka jendela dunia.

Kadang kita ajah kalau waktu istirahat atau saat di perjalanan pulang pergi kantor lebih suka buka sosial media dibandingkan baca buku/koran atau apapun itu. Padahal kita sama-sama sadar kalau kita membeli dan membaca secara manual, kita ikut membantu roda kehidupannya si Penulis, si Jurnalis, si Editor, si "Toko buku", bahkan si Penjual Koran. Hayooo coba deh inget-inget kapan terkahir kali kamu membeli koran? Atau buku? Buku apa? *mau dong rekomendasinya* hehehe

Kalau alasannya kemudahan teknologi, biar saya kasih tahu sini.. *benerin kacamata*.. bahwa berita, informasi, atau nasihat penting itu mungkin aja kamu temukan di postingan media sosial, tapi tidak akan selengkap kamu baca langsung bukunya atau korannya. Kutipan yang di media sosial hanya akan kamu ingat kalimatnya, tapi tidak kamu pahami cerita dibalik kata-kata itu. Kamu bisa dengan mudah copy paste tulisan orang, tapi kamu tidak akan punya pengalaman yang sama dengan orang yang membaca penuh seluruh buah pikiran orang tersebut.

Makanya banyak orang di negara maju bilang kalau budaya membaca itu penting. Selain menghargai karya orang lain, kita juga menghargai diri kita sendiri yang memang butuh asupan ilmu pengetahuan *aih sedaap*.

Sekian.
Salam hangat sehangat Soto Lamongan dari Langsat. Babay!

29 January 2016

Perempuan dan Masalah Krusialnya

Perempuan.
Waktu kecil maunya sama kayak ibunya. Namanya preparatory stage.  Tahap dimana seseorang akan menirukan apa saja yang dilakukan oleh orangtuanya atau orang-orang terdekatnya. Ibunya ke dapur dia ikut, ibunya angkat telpon dia ikut, ibunya solat dia ikut. Pokoknya apapun yang dilakukan ibu harus ikutan.

Waktu di awal-awal masuk sekolah juga udah maunya samaan sama teman. Kadang perempuan sukanya samaan kunciran rambut sama teman sebangku. Atau samaan tempat pensil Winnie the pooh sama teman sekelompok. Atau samaan jajan gulali sama geng cewek-cewek kecil. Pokoknya harus samaan sama yang lain. Kalau gak sama, gak mau masuk sekolah. Kalau gak sama, gak mau jajan bareng. Kalau gak sama kita gak temenan yah!!!

Terus ada namanya play stage. Tahap dimana anak-anak akan memainkan peran seperti orang-orang yang di dekatnya atau bahkan yg ia idolakan. Misalnya ibunya Bani suka masak, jadi Bani sukanya main masak-masakan. Atau misalnya kakaknya Bani dokter, jadi Bani sukanya main dokter-dokteran. Atau misalnya tetangganya Bani suka pacaran, jadi Bani main pacar-pacaran. Ciyeeeeeeee. Loh ini gak bener ini! Gak boleh yah anak-anak, masa masih SD udah pacar-pacaran?

Ya pokoknya tahap tersebut tahap dimana anak-anak puas bermain sepuaaaaaasnya. Tahap dimana anak-anak perempuan kalo ditanya cita-citanya mau jadi apa, pasti bakal dijawab mau jadi dokter atau guru. Tapi mereka harus tau cita-cita itu sungguh mulia. Dari kecil aja udah punya niat jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, apalagi gedenya nanti ya kan? *mengheningkan cipta mulai....*

Selanjutnya ada game stage. Pada tahap ini perempuan udah bisa bermain-main. Wah main apa nih? Mainin perannya masing-masing. Misal dia pelajar, ya dia belajar. Misal dia ikut OSIS atau eskul lainnya ya dia udah mulai bertanggungjawab dengan komunitas yang dipilihnya itu.

Namanya juga game, maka di tahap ini (biasanya tahap remaja) perempuan maunya selalu menang. Inget kan quotes-quotes yang sering beredar di media sosial? Yap! "Men to the left, because woman always right!" Itu tolong digarisbawahi yah woman always right! Hahaha *ketawa bahagia*. Iya pokoknya gak boleh ada yang lebih imut dari kita. Gak boleh ada yang yang lebih harum dari kita. Gak boleh ada yang foto instagramnya lebih banyak di-love daripada kita. Dannnn gak boleh ada yang lipsticknya lebih memikat daripada kita. Positifnya lagi, gak boleh ada yang dapet jurusan dan PTN lebih keren dari kita!!! Pokoknya kita juara deh!

Dan terakhir.. ini kalo katanya si George Herbert Mead adalah generalized others. Ini dia tahap dimana perempuan sudah menjadi seperti "seharusnya" yang dibilang orang-orang. Udah harus dewasa. Udah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Udah bisa membedakan mana yang modus dan mana yang tulus. Udah bisa membedakan mana yang lengkuas dan mana yang jahe......

Emm, sebenarnya kalimat terakhir itulah yang agak sulit pemirsah. Bagaimana mungkin setiap perempuan dituntut dengan standar sama rata yang dibuat oleh nenek moyang kita sejak jaman dahulu, sementara kita tumbuh dan berkembang di era yang berbeda, tempat yang berbeda, serta input dan output yang berbeda? Iya masalah krusial itu, yang soal bumbu dapur!

Bagi saya biarlah waktunya mendewasa, ya perempuan akan mendewasa dengan sendirinya. Dengan kesadarannya bahwa ia butuh lebih banyak lagi belajar untuk menjadi paket lengkap. Ada waktunya. Mungkin besok, mungkin lusa. Sebab bunga saja tidak langsung mekar merekah indah, perlu waktu untuk tumbuh. Perlu waktu untuk berkembang.

Cipulir, 29 Januari 2016
Maria Ulfa
-Perempuan yang pernah 2 kali sukses membuat roti bakar dan mie dogdog sendiri pada saat kost di Solo-