aku

01 June 2016

Si Babi Ungu

Pada waktu kecil, aku percaya dengan segala kata-kata Enid Blyton. Aku percaya dengan segala dunia khayalnya. Juga percaya mungkin nanti akan jadi nyata.

Waktu kecil aku suka mengkhayal,
Kadang jadi siswi di sebuah asrama kampung pedalaman Inggris,
Kadang jadi ibu peri,
Kadang jadi si babi ungu *tapi aku rasa aku tidak cukup nakal untuk menjadi seperti dia*,
Kadang juga jadi desainer di kota Paris.

Waktu kecil aku banyak juga baca serial komik Conan Edogawa. Dinamakan Conan karena Aoyama Gosho sangat mengidolakan Conan Doyle pengarang Sherlock Holmes. Suka karakter Ai. Berharap bisa jadi Aibara. Misterius tapi pinter. Pemikir tapi kecil. Gak cemburuan. Hff.......

Juga pernah mengkhayal jadi Olga Sepatu Roda. Tokoh cewek kece ciptaan Hilman Hariwijaya. Cakep, rambut kuncir kuda, jago siaran, serta tangguh anti patah hati. Punya sahabat namanya Wina yang punya mobil vw kodok. Selalu ceria meski honor siaran radio tak seberapa. Selalu terlihat anggun meski somad selalu mengekor.

Khayalan aku banyak. Mungkin kalo punya blog dari kecil, blog ini akan diblokir karna isinya aneh-aneh.
Ohiyaaa pernah juga mengkhayal jadi Acha Septriasa. Yang kalo nangis ajah tetep cakep. Yang kalo ngomong aja suaranya udah bagus. Yang pake baju apa aja terlihat trendi. Yang rambutnya gak disisir pun tetep fotogenik.
Tapi sekarang aku jadi kayak gini. Suka berbicara dengan khayalanku sendiri sebelum tidur.
Halo khayalan,
Apa kabar kamu di Eropa?
Apa kabar dengan kasus-kasus kamu di Jepang?
Apa kabar kamu dari masa 90an?
Apa kabar kamu yang sekarang?
Masihkah jadi anak baik di asrama? Ataukah jadi pemikir di antara teman-teman yang santai? Ataukah jadi cewek kece yang mengagumkan? Ataukah jadi perempuan yang melankolis?
Aku disini sudah jadi pemikir. Sudah jadi yang kadang dikagumi anak-anak. Sudah jadi yang kadang dibenci orang-orang. Sudah jadi pengikut arus. Sudah jadi cewek metropolitan yang bermusuhan dengan kemacetan. Sudah lupa harus darimana memulai khayalan yang indah lagi. Dari Jakarta kah? Atau dari Solo kah? Atau dari Sorbone University kah? Hahaha.. Biar tongkat ibu peri yang tentukan kemana langkah ini seharusnya.

Selamat malam.

07 May 2016

Jakarta Sore Ini

Gue nulis ini waktu lagi mandangin depan jalan ciledug raya yang macet, plus banyak genangan karena hujan sedang deras-derasnya. Gak mampu bikin puisi. Berusaha untuk gak ngeluh sama yang punya langit aja udah cukup berat.
Bah.. Hidup kok ngeluh mulu si ul..

Sebenarnya hari ini hari bahagia. Salah satu sahabat SMA gue nikah. Rumahnya di batas. Iya perbatasan antara DKI JAKARTA dan TANGERANG. Jalur sibuk sedunia.
Untuk istimewanya gue pake rok batik kesayangan asli solo. Naik grab bike dari tempat kerja.. Kehujanan.. Kecipratan.. Make up luntur.. Pacar jauh.. Laper tiada tara..
Alhasil nyangkut di kedai mpek-mpek sembari nungguin Bani. Pas gue lagi seru-serunya nulis, eh Bani dateng dengan muka datar. Bahagia. Terus gue lupa melanjutkan tulisan ini hingga beberapa minggu kemudian.

Nah jadi waktu di kedai mpek-mpek itu kan gue pesen mpek-mpek yah *yakali mesen cat tembok ul*.. terus ada ibu-ibu kepo duduk belakang gue. Awalnya dia ngeliatin gue yang heboh ngelap2 sepatu pake tisu. Terus tiba-tiba nyolek, "neng mpek-mpeknya enak gak?", belum sempet gue jawab dia udah berargumen, "gak enak kan ya? bau.." gituh katanya pemirsah. Padahal pas gue makan itu enak banget dan biasa aja, gak bau. Terus gue pura-pura sibuk bbm an sama pacar, sambil iseng mau kirim foto gue yang lagi makan mpek-mpek *Maria Ulfa emang alay banget*, ehhhhh dede ehhhh itu ibu kepo dari belakang ngeliatin hp gue sampe mukanya pun muncul di foto selfie gue.

Terus yaudah gue diemin. Niatnya mau gue ajak foto sekalian, tapi keburu punya niat baik mau update di blog ajah. Terus keburu Bani dateng. Terus kondangan deh. Yey!!!!!

03 May 2016

Jakarta Pagi Ini

Pagi selalu berganti dengan sama,
Sibuk, penuh rencana
Pusing, banyak wacana

Selalu ada saja yang membuat iba di tengah jalan
Para renta yang menjual buah, meski tau banyak orang suka memperkaya pemilik supermarket
Tukang koran yang lusuh, sebab berita kini mudah dibuka dari genggaman
Juga kecil-kecil anak di perempatan, menenggalamkan mimpi, mengais rejeki di tengah jalan

Tuhan bukannya tidak baik,
Baik sekali pada kita yang pandai bersyukur
Yang masih bisa bergelut dengan macet untuk pergi ke tempat kerja
Yang masih bisa pilih menu berbeda untuk makan siang dan makan malam
Yang masih bisa dengan tenang berlibur di akhir pekan

Semoga setiap perjalanan jadi pelajaran
Semoga setiap hari terus belajar
Semoga setiap kekurangan masih bisa diambil hikmah

Selamat pagi,
Semangat terus bergerak,
Biar hidup lebih bercorak.

24 April 2016

Keep in your passion!

Kadang saya suka membayangkan, bagaimana jika saya menjadi wanita karir yang pagi-pagi harus bergulat dengan kemacetan menuju gedung pencakar langit Ibu Kota, meminum susu low fat biar tubuh tetap langsing, memesan katering dengan menu kentang rebus, telur rebus, serta wortel dan brokoli yang sengaja tidak dibubuhi garam maupun merica -seperti yang saya lihat di Instagram para artis-, lalu posting foto OOTD (out of the day), dan malamnya nongkrong di cafe yang desain interiornya niat banget bareng teman-teman se-geng yang asik membicarakan bonus tahunan dari kantor untuk jalan-jalan ke beberapa negara tujuan wisata antara Eropa atau Timur Tengah.

Dessssh!
Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau ya.

Kadang saya juga membayangkan bagaimana perempuan-perempuan jaman dulu memberikan penuh waktunya untuk mengurus anak dan suaminya. Berkutat antara dapur-sumur-kasur sembari menanti akhir pekan untuk kondangan dengan tetangga kampung. Barangkali juga terasa bahagia mengoleksi gelas-gelas kaca dan foto keluarga yang terpajang manis di dinding ruang tamu untuk dipamerkan ke orang lain ketika ada arisan.

Dessshhh!
Kebahagiaan orang lain memang selalu terlihat tanpa cela di mata kita.

Namun, mata ini justru dihadapkan pada anak-anak galau dengan jurusan kuliah, dengan jadwal kerja yang diputar-putar, dan beberapa jajanan ala sekolahan yang sulit ditolak. Serta tarif ojek online yang tiap peak hours harganya dimahalin.

By the way, kalau boleh dibilang yaa, Sang Pengatur Skenario baik sekali dengan saya. Hari-hari yang mudah setiap siang hingga malam. Jam-jam menyenangkan bertukar ilmu dengan anak-anak putih abu-abu. Dan detik-detik yang saya lewati dengan orang-orang yang saya sayangi. Adalah jalan yang baik dan terbaik yang dipilihkan Maha Penguasa langit dan bumi untuk saya, pun untuk orang-orang di sekitar saya.

Suatu hari, pada saat masih duduk di bangku SMA, saya pernah mengajukan pertanyaan 'iseng' pada guru saya. "Kenapa bapak mau menjadi guru?", beliau menjawab sambil tersenyum tulus, "menjadi guru itu panggilan nak. Mengajar, belajar, mengulang-ulang ilmu setiap hari.. Itu panggilan dari sini". Begitu jawabnya sambil memegang hatinya. Saat itu saya dengarkan saja sambil lalu. Bahkan hingga kelas 3 SMA pun tidak ada terbesit di benak saya akan mengambil jurusan keguruan. Hingga takdir yang membawa saya kesini.

Saya bangun pagi dengan bayangan beberapa pertanyaan anak-anak yang suka lucu-lucu kalau diingat. Mulai dari yang menyangkut pelajaran, hingga perasaan. Mulai dari soal sosiologi, sampai dengan soal pribadi. Mulai dari tanya tentang homework-nya mereka dari sekolah, sampai tanya saya dengan pacar saya kalau ngomong pakai bahasa apa.. *ya menurut nganaaa? Pakai bahasa kalbu lah wkwwkwk* Begitulah anak-anak SMA jaman sekarang. Kepo, baper, bm.. sudah jadi ledekan sehari-hari.

Saya disini bukan mengajar. Tapi sama-sama belajar. Kebetulan di agama yang saya anut katanya, sampaikanlah walau 1 ayat. Juga ditegaskan lagi katanya orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Sang Pencipta. Tuh kan, Sang Pengatur Skenario memang baik sama saya. Dan saya merasa nyaman dengan rutinitas seperti ini. Cukup nyaman, meski kadang merepet jika ada hal-hal yang bikin saya KZL atau ZBL. *brb pasang status di line pakai foto Raisa6690 yang lagi manyun* *iya emang, kadang saya suka merasa mirip sama raisa6690 kalo lagi manyun* he he he he.

Baiknya di jaman ini adalah, perempuan bebas menentukan nasibnya mau jadi apa, mau menyibukkan diri dengan apa, mau mengembangkan diri seperti apa. Terlepas dari teori feminimisme bangsa Barat, ataupun nunut apa katanya pejuang kesetaraan pendidikan bagi perempuan Indonesia, R A Kartini yang terkenal dengan tulisannya Habis Gelap Terbitlah Terang, perempuan masa kini cukup dengan jadi dirinya sendiri. Keep in your passion! Tidak harus sama dengan wanita kantoran yang pakai blezer dan berbalut barang-barang branded, atau sama dengan wanita jaman dulu yang pakai kebaya dan berkonde.. Tapi yang terbaik adalah pakai pakaian yang kita suka. Kerjakan hal-hal yang kita senangi dan berguna bagi orang di sekitar. Terus belajar dan belajar, sebab hidup adalah pembelajaran sepanjang hayat.

Jadi rasanya saya cukupkan saja khayalan-khayalan sosiologis yang tak ada ujungnya ini. Saya mau kembali membaca beberapa buku sejarah tentang Timur Tengah, sejarah peradaban dunia, ataupun teori konspirasi. Mau kembali diskusi dengan mama tentang kelakuan 'unik' para koruptor. Mau kembali jadi blogger yang rajin menulis tentang kamu.. Iya kamu.. #eyaaa dan mau belajar menanak nasi di rice cooker dengan baik dan benar.

Selamat malam,
Terima kasih sudah membaca ;)